Festival Balon Udara di Ponorogo Kembali Digelar, Jurinya dari Wonosobo

Festival Balon Udara di Ponorogo Kembali Digelar, Jurinya dari Wonosobo

KOMPAS™, PONOROGO – Festival Balon Udara akan kembali dilaksanakan di Kabupaten Ponorogo pada Minggu, 29 Maret 2026 di Sirkuit Jurang Gandul, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan. Ini merupakan festival ke-10 sejak dilaksanakan pertama kali di Lapangan Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman pada 3 September 2017 lalu.

Festival ini untuk memberikan ruang untuk memfasilitasi tradisi warga Ponorogo saat perayaan Hari Raya Idul Fitri, sekaligus untuk mencegah bahaya penerbangan balon udara liar.

Kompol Edi Suyono, Kabag Ops Polres Ponorogo mengatakan bahwa festival pada tahun 2026 akan diikuti oleh 44 peserta. Hal ini diluar ekspektasi, pada awalnya pihaknya merencanakan hanya akan menjaring 21 peserta dengan perhitungan masing-masing kecamatan 1 delegasi peserta.

“Antusias peserta lumayan tinggi, hingga akhirnya kita menerima 24 peserta untuk lokal, ini yang akan kita nilai, ditambah dari Wonosobo sebanyak 20 peserta, jadi ada 44 peserta nantinya,” ungkapnya. Jumat, (27/3).

Untuk penilaian lomba, akan dinilai dari ukuran balon, keindahan, tema, estetika, dan kekompakan tim, serta unsur lainnya. Menurutnya festival balon ini juga untuk mengasah kreativitas peserta dalam mendesain balon yang mereka lombakan.

Para peserta diminta hadir sejak pukul 04.00 WIB, dengan proses penerbangan dimulai sekitar pukul 05.00 WIB di Sirkuit Jurang Gandul, memilih lokasi ini, karena lebih representatif dan aman untuk kegiatan tersebut.

“Peserta jam 04.00 sudah di lokasi, jam 05:00 sudah naik,” ungkapnya.

Sedangkan untuk menjaga kualitas penilaian, panitia menghadirkan juri yang didatangkan langsung dari Wonosobo, karena daerah ini dikenal dengan tradisi balon udara. Dengan juri luar daerah, diharapkan mampu memberikan penilaian objektif sekaligus meningkatkan kualitas festival.

“Selain itu, langkah ini juga menjadi bentuk kolaborasi budaya antar daerah,” katanya.

Melihat antusiasme peserta saat ini, lewat aplikasi, masih banyak yang ingin daftar, ini bisa sebagai masukan untuk pelaksanaan yang akan datang dilaksanakan selama 2(dua) hari, dengan rincian hari kesatu untuk peserta lokal, dan hari kedua bisa untuk nasional.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa festival ini juga diharapkan mampu menekan potensi bahaya yang selama ini kerap muncul akibat balon udara liar. Mulai dari gangguan penerbangan, kerusakan jaringan listrik, hingga risiko kebakaran menjadi perhatian serius aparat.

“Dengan adanya Festival Balon Udara di Ponorogo, masyarakat diharapkan beralih ke cara yang lebih aman dan terkontrol untuk menyalurkan hobi menerbangjan balon udara tanpa awak, sehingga penerbangan balon udara liar itu bisa dikurangi, syukur-syukur tidak ada,” pungkasnya. (*)