Pindah Layanan Dapur MBG, KPM dari SPPG Patihan Kidul Siman Ponorogo Merasa Kehilangan

Hari Prasetyo 23 Apr 2026 Berita, Pemerintahan, Umum
Pindah Layanan Dapur MBG, KPM dari SPPG Patihan Kidul Siman Ponorogo Merasa Kehilangan

KOMPAS™, PONOROGO – Hubungan kekeluargaan yang di bangun antara SPPG Patihan Kidul, Siman, Ponorogo dengan Kelompok Penerima Manfaat (KPM) program Makan Bergizi Gratis (MBG), meninggalkan kesan mendalam bagi sebagian penerima manfaat, hal ini diutarakan setelah adanya perpindahan dapur MBG.

SPPG Patihan Kidul di bawah naungan Yayasan Berkah Srikandi Abadi ini memang mengedepankan pondasi ikatan emosional dengan para penerima manfaat, mereka menganggap bahwa yang diberi MBG itu adalah anak-anak mereka sendiri, jadi harus diutamakan pelayan yang maksimal. Selain itu SPPG Patihan Kidul selalu memberikan angket penilaian dari penerima manfaat dengam tujuan untuk memperbaiki pelayanan MBG mereka. Bahkan apabila ada anak yatim piatu yang membutuhkan bantuan, yayasan tersebut mengakomodir untuk membiayai mereka sekolah sampai Sarjana.

Pada penataan ulang layanan MBG ini, ada sebanyak 15 sekolah dari jenjang TK hingga SD/MI di wilayah Korcam Siman yang tadinya dilayani oleh SPPG Patihan Kidul Siman, kini dialihkan ke dapur baru sebagai bagian dari pemerataan program.

Namun ikatan kekeluargaan yang sudah begitu kental, perpindahan tersebut menyisakan rasa kehilangan, terutama bagi pihak sekolah dan wali murid yang telah merasa cocok dengan layanan sebelumnya.

Kepala TK Dharma Wanita Ngabar, Sutiyem, mengaku kaget saat menerima undangan perpisahan dari SPPG Patihan Kidul. Padahal, sejak program berjalan dilayani oleh SPPG Patihan Kidul Siman, ada sekitar 40 penerima manfaat dari kelompok bermain dan TK, termasuk guru, merasakan kenyamanan dengan kualitas makanan yang disajikan.

“Kami dan wali murid merasa cocok, begitu pula dengan anak-anak senang dengan layanannya. Menunya cocok dan tidak pernah ada masalah, kita terlanjur I Love You pada pelayanannya,” katanya, Kamis, (23/4).

Menurutnya, selain rasa yang sesuai, kebersihan dan higienitas makanan menjadi faktor utama yang membuat pihak sekolah merasa percaya, selain itu penerima juga diminta untuk memberikan feedback atas menu dan pelayanan, dan pihak dapur menanggapi itu dengan perbaikan.

“Kami sudah cocok, istilahnya sudah cinta, I Love You. Tapi tiba-tiba dipindah, tentu kaget. Tapi mau bagaimana lagi, ini aturan, kami mengikuti saja,” ujarnya.

Ia berharap, dapur baru yang akan melayani sekolahnya dapat mempertahankan standar yang sama, baik dari segi kualitas maupun pelayanan. “Ya minimal sama seperti pelayanan oleh SPPG Patihan Kidul Siman,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kepala TK Muslimat Pijeran, Nanik. Ia mengaku kabar pemindahan dapur membuat pihak sekolah dan wali murid merasa sedih. “Ketika tahu akan dipindah dapurnya, kami semua sedih, termasuk wali murid. Bahkan ada wali murid yang menyampaikan, kalau harus pindah dapur lebih baik tidak menerima MBG,” katanya.

Ia menilai, kedekatan emosional secara kekeluargaan dengan layanan yang sudah berjalan menjadi salah satu alasan munculnya respons tersebut.

Kepala SPPG Patihan Kidul, Winda Martha Pratiwi menjelaskan, bahwa pemindahan tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerataan penerima manfaat yang diinstruksikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan adanya dapur baru di Desa Pijeran, distribusi layanan harus dibagi ulang

“Ini prosedural. Ada penambahan dapur di wilayah Siman, sehingga penerima manfaat harus dibagi. Ini juga hasil koordinasi dengan korwil dan korcam,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, selain pembagian ke dapur baru, terdapat pula penyesuaian dengan dapur lain, termasuk dapur Polres. “Intinya ini pertukaran penerima manfaat untuk pemerataan,” ujarnya.

Sebelumnya, SPPG Patihan Kidul melayani sekitar 35 sekolah dengan total lebih dari 3.000 penerima manfaat. Setelah penyesuaian, jumlah tersebut kini menjadi sekitar 2.500 penerima. Di sisi lain, terdapat penambahan sasaran program, yakni ibu hamil di Desa Ronosentanan. Hal ini, menurut Winda, menjadi bagian dari perluasan manfaat program MBG.

Meski harus melepas sebagian penerima manfaat, pihak SPPG Patihan Kidul menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga kualitas layanan. Evaluasi rutin dilakukan dengan melibatkan penerima manfaat melalui formulir umpan balik, termasuk terkait menu makanan.

Dalam kesempatan yang sama, Mitra SPPG Patihan Kidul, H. Sugeng Hariyono atau Sugeng Srikandi mengatakan, hubungan yang telah terjalin antara pihak dapur dan penerima manfaat tidak sekadar formalitas program.

“Karena sudah seperti keluarga, maka saat dipisah kami merasa perlu menggelar perpisahan sederhana agar hubungan tetap harmonis,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya tetap berupaya membantu kelompok rentan, seperti anak yatim, meskipun tidak lagi berada dalam cakupan dapur yang sama.

Menurutnya, keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada distribusi, tetapi juga pada komitmen pelaksana dalam menjaga amanah.

“Kuncinya amanah. Anggaran harus dijalankan sesuai aturan tanpa dikurangi, agar tujuan program MBG untuk mendukung generasi emas bisa tercapai,” pungkas H. Sugeng Hariyono, Mitra SPPG Patihan Kidul, Siman, Ponorogo. (*)