Atasi Polusi TPA, DLH Magetan Terapkan Green Belt Lidah Mertua

Dewi Ulandari 17 Feb 2026 Berita, Inovasi
Atasi Polusi TPA, DLH Magetan Terapkan Green Belt Lidah Mertua

KOMPAS™, MAGETAN – Aroma tak sedap selalu tercium di sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPA), tumpukan sampah menjadi sumber polusi udara tersebut. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan manfaatkan tanaman lidah mertua (sansevieria) sebagai solusi.

Lidah mertua merupakan tanaman yang berfungsi menjadi penyerap polutan alami untuk mengurangi bau yang kurang sedap di seputaran TPA.

Sekretaris DLH Magetan, Eni mengatakan bahwa penanaman lidah mertua di seputaran TPA sebagai inovasi untuk mempercantik sekaligus mengurangi polisi udara yang dikeluhkan masyarakat.

Menurutnya pilihan tanaman lidah mertua selain perawatannya mudah, penyerapan karbon monoksida, nikotin, serta racun berbahaya lainnya sangat luar biasa, bahkan tetap memproduksi oksigen di malam hari.

“Kami ingin mengubah wajah TPA Magetan menjadi kawasan hijau dan fungsional secara ekologis, sehingga kesan kotor dan bau bisa hilang,” ujarnya.

Ia menambahkan lidah mertua merupakan solusi nature based yang efisien, bekerja selama 24 jam menyaring udara yang berbahaya hasil aktivasi sampah.

“Kami sedang mengembangkan proyek ini, Magetan nanti akan jadi pionirnya,” tambahnya.

Sebagai langkah awal DLH Magetan telah melakukan pembibitan dan propagation lidah mertua di Pusat Pembibitan, Bulukerto, Magetan.

“Pembibitan terus kita pacu, ratusan bibit lidah mertua sudah dipersiapkan dan dirawat intensif, nanti akan disebar untuk semua TPA di Magetan,” ujarnya.

Pemilihan lokasi di Bulukerto, untuk memudahkan pengawasan dan memastikan bibit yang dihasilkan berkualitas prima untuk dijadikan benteng pertahanan melawan polusi. Inovasi ini akan diimplementasikan secara masif.

Green belt atau benteng hijau vegetasi rapat ini diproyeksikan menjadi penyaring fisik dan biologis yang meminimalisir penyebaran bau tak sedap ke pemukiman warga terdekat, sekaligus memperbaiki ekosistem mikro di sekitar tempat pembuangan akhir.

Program ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak instan pada kualitas udara, tetapi juga menjadi model percontohan bagi pengelolaan lingkungan berbasis alam di tempat lain.

“Sentuhan inovasi DLH Magetan ini, sebagai bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, lokasi yang dianggap menjadi sumber masalah justru bisa diubah menjadi bagian dari solusi lingkungan,” pungkasnya. (*)