Sekelumit Kisah Sugeng Srikandi Ponorogo dari Nol Sampai Sukses
KOMPAS™, PONOROGO – Berlatarbelakang bimbingan orangtua yang kental dengan ajaran agama Islam Sugeng Hariyono atau lebih dikenal Sugeng Srikandi menjalani hidup dengan penuh kepedulian terhadap sesama terutama anak yatim piatu.
Meyakini bahwa Hari Asyura atau hari ke-10 bulan Muharram, merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam yang ditandai dengan berbagai peristiwa sejarah nabi terdahulu. Ia memberikan santunan kepada yatim piatu sejak duduk di bangku kelas 5(lima)
“Saya menyisihkan uang saku seminggu sebelum Hari Asyura, dan saya berikan ke teman-teman saya yang yatim piatu,” ceritanya. Kamis, (16/4) malam.
Menyantuni anak yatim itu sampai sekarang terus dilakukan, sudah mendarah daging karena sudah menjadi kebiasaan sejak kecil.
Sedangkan karirnya dimulai pada tahun 1998 berkerja di PT PLN (Persero) menjadi petugas pemasangan listrik baru dengan gaji Rp30 ribu. Kerja belum lama dunia dihantam krisis moneter dan saat itu sulit mendapatkan penghasilan.
Kondisi pertumbuhan ekonomi mulai merangkak ke normal, kemudian bekerjasama dengan temannya di Surabaya untuk memulai usaha, namun naas modal Rp24 juta malah dibawa kabur oleh rekannya. Akhirnya berusaha mencari rekannya tersebut kerumahnya hendak menagih uang dan berkali-kali gagal tidak ketemu. Pada puncak titik putus asanya, saat sedang shalat di Mushola sepulang perjalanan nagih uang terakhir kalinya, ia mengikhlaskan semuanya dan menerima semua itu sebagai ujian dari Allah SWT.
“Saya yakin, setiap orang beriman pasti diuji, jadi saya terima semua itu sebagai ujian,” tuturnya.
Kemudian pada tahun 2022 memegang PT Srikandi Berkah Mandiri dan langsung melejit penghasilan, sehingga mengantarkannya untuk ibadah haji. Ia mengutamakan ibadah haji dahulu daripada rumah atau kendaraan, karena ingin membuat batas agar kedepan tetap pada nilai-nilai keislaman.

“Haji sebagai ukuran atau batas agar tidak berbelok arah dari nilai-nilai keislaman,” ungkapnya.
Selain itu ada satu keyakinan bahwa dengan ibadah pasti akan dimudahkan hidupnya, akan diberikan rejeki yang berkah dan lebih luas. Semua keyakinan itu akhirnya terwujud perlahan-lahan dan usaha juga semakin besar.
Besarnya usaha itu berawal pada saat mayoritas rumah di wilayah Ponorogo sudah terpasang listrik, banyak temannya di usaha yang sama mulai mengurangi pekerja dan saat itu, pekerja mereka saya terima dan saya pekerjakan di bidang pertanian. Ini bukan tanpa alasan, tapi karena satu orientasi besar bahwa lepas turun drastisnya pemasangan listrik baru, tentu kedepan pasti akan ada pekerjaan perawatan.
“Betul itu akhirnya terjadi, dari 16 pengusaha saat itu tinggal 4 pengusaha, dan saya yang mendapat banyak pekerjaan karena memang saya punya pekerjaan yang siap, sedangkan lainnya minim pekerja,” jelasnya.
Disitulah letak bagaimana kita harus pandai dalam memperhitungkan situasi kedepan, sehingga benar-benar mampu menempatkan posisi yang tepat untuk meraih orientasi yang diperhitungkan. Semua usaha pasti ada pasang surutnya, tenggah bagaimana kita membaca peluang.
“Seperti usaha saat ini juga akan turun drastis, makanya kita harus mempersiapkan peluang kedepan, misalnya kita harus punya pabrik alat listrik,” tuturnya.
Selain itu ketika punya uang harus dihabiskan jangan sampai disimpan, dalam artian dihabiskan untuk usaha, makanya akhir-akhir ini juga ikut menjadi mitra program Makanan Bergizi Gratis (MBG), swalayan, bertani padi, serta punya mesin combine padi. Intinya perangi kemalasan dan jangan lekas berubah menjadi pribadi yang bergaya hidup mewah.
Dari semua usaha-usaha ini akhirnya mampu menyisihkan rejeki untuk terus menyantuni anak yatim piatu, menyekolahkan sampai Sarjana, setelah lulus bagj yang bersedia, kita karyakan dalam pekerjaan sesuai dengan bidangnya.
“Ada 80 anak yatim piatu yang dibawah naungan yayasan kami, dari berbagai jenjang pendidikan dan wilayah di Ponorogo,” pungkasnya. (*)

