Festival Balon Udara, Daya Tarik Baru Ponorogo

Hari Prasetyo 29 Mar 2026 Berita, Budaya, Wisata
Festival Balon Udara, Daya Tarik Baru Ponorogo

KOMPAS™, PONOROGO – Ribuan penonton memadati Sirkuit Jurang Gandul, Kadipaten, Babadan untuk menyaksikan Festival Balon Udara 2026. Cakrawala Ponorogo dihiasi keindahan balon udara sejak pagi Minggu, (29/3).

Festival Balon Udara di Ponorogo digelar sejak pertama kali pada 3 September 2017 lalu. Event tersebut sebagai wadah dari pemerintahan daerah untuk memberikan wadah dalam menyalurkan budaya menerbangkan balon udara liar yang dinilai membahayakan dan telah dilarang oleh pemerintah.

Pelestarian menerbangkan balon udara tersebut, akhirnya diwadahi dengan Festival Balon Udara, disini peserta bisa berkreasi untuk membuat keindahan balon, dan menerbangkn dengan kekompakan tim.

Kompol Edi Suyono, Kabag Ops Polres Ponorogo mengatakan bahwa festival pada tahun 2026 diikuti oleh 44 peserta. Untuk penilaian lomba, akan dinilai dari ukuran balon, keindahan, tema, estetika, dan kekompakan tim, serta unsur lainnya.

Menurutnya festival balon ini juga untuk mengasah kreativitas peserta dalam mendesain balon yang mereka lombakan, adanya tambahan peserta dari Wonosobo diharapkan mampu menambah semarak serta salah satu bagian dari pertukaran dan kolaborasi budaya antar daerah.

“24 peserta untuk lokal, ditambah dari Wonosobo sebanyak 20 peserta, jadi ada 44 peserta nantinya,” ungkapnya.

Salah satu traveler asal Kabupaten Blitar, Yiyin mengatakan awalnya ingin melihat festival balon di Wonosobo, namun karena ada festival di Ponorogo akhirnya menyaksikan sambil berwisata di Ponorogo. Dia datang malam menjelang festival langsung berwisata ke Telaga Ngebel, kemudian paginya ke festival dan mampir di Kampung Sate Ngepos Ponorogo.

“Awalnya dingin melihat di Wonosobo, karena ada di Ponorogo akhirnya balon ke Ponorogo, ya sambil wisata,” ungkapnya

Dia menilai pelaksanaan Festival Balon Ponorogo kurang memuaskan, diluar ekspektasi, masih banyak yang perlu ditingkatkan menjadi lebih menarik lagi, “Seperti yang di Wonosobo,” pungkasnya. (*)