Wujud Transparansi, SPPG Patihan Kidul Siman Gelar Sosialisasi dengan KPM
KOMPAS™, PONOROGO – Komitmen peningkatan layanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berkualitas. Mitra SPPG Patihan Kidul Siman Ponorogo, Sugeng Srikandi, menggelar pertemuan sekaligus sosialisasi program MBG bersama para sekolah penerima manfaat di Sedayu Resto, Rabu (6/5),
Hadir dalam kegiatan ini perwakilan sekolah dari enam desa di Kecamatan Siman yang berjumlah sekitar 50 peserta. Pertemuan ini menjadi ruang dialog terbuka antara penyelenggara dan penerima manfaat guna memastikan program berjalan optimal, transparan, dan sesuai dengan amanah program.
Mitra SPPG Patihan Kidul Siman, Sugeng Srikandi menegaskan bahwa program MBG merupakan amanat yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia menekankan pentingnya penggunaan anggaran secara utuh demi kepentingan penerima manfaat.
“Anggaran jangan dikurangi, berikan yang terbaik, jadikan menu spesial penerima manfaat adalah keluarga dan anak-anak kita sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, integritas dalam pengelolaan anggaran menjadi fondasi utama keberhasilan program. Ia bahkan mengingatkan agar tidak ada praktik pengurangan kualitas atau nilai belanja dari anggaran yang telah ditetapkan.

Dalam pelaksanaan, ia mendorong adanya pendekatan humanis melalui komunikasi intens dengan para penerima manfaat. Salah satunya dengan rutin menyerap aspirasi terkait menu makanan, agar MBG benar-benar sesuai selera anak-anak dan dapat dinikmati dengan baik.
Tak hanya itu, melalui Yayasan Berkah Srikandi Abadi, ia turut memperluas dampak sosial dengan memberikan beasiswa bagi anak yatim dan kurang mampu. Program ini mencakup jenjang pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
“Kami ingin mereka punya kesempatan yang sama untuk sukses. Monggo, jika ada siswa yang membutuhkan, bisa didaftarkan. Insyaallah kami fasilitasi,” ujarnya.
Sementara, Kepala SPPG Patihan Kidul, Winda, menjelaskan bahwa kebijakan menu tetap mengacu pada pedoman dari Badan Gizi Nasional (BGN), yang menitikberatkan pada keseimbangan gizi, terutama asupan protein nabati dan hewani.
“Soal usulan sambel di menu MBG. Aturan BGN tidak direkomendasikan.” katanya.
Ia juga memaparkan secara rinci mekanisme anggaran MBG sebagai bentuk transparansi kepada para penerima manfaat. Ia berharap keterbukaan ini dapat membangun kepercayaan serta menghindari kesalahpahaman di lapangan.
Acara diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan antara pihak BGN melalui SPPG Patihan Kidul dan sekolah penerima manfaat sebagai simbol komitmen bersama dalam menyukseskan program MBG.
Dengan semangat kolaborasi, transparansi, dan keberpihakan pada kualitas, program MBG di Patihan Kidul diharapkan tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi, tetapi juga langkah nyata dalam membangun generasi sehat dan berdaya saing di Ponorogo. (*)

